Alumni Magister Ilmu Politik Unsoed Berbagi Pengalaman dalam Workshop Penguatan Laboratorium Ilmu Politik

Purwokerto – Program Studi Magister (S2) Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (FISIP Unsoed) berpartisipasi dalam Workshop Sinkronisasi Modul Praktikum dengan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Mata Kuliah yang diselenggarakan Jurusan Ilmu Politik pada 14–16 Juli 2026. Salah satu agenda penting workshop adalah sesi “Laboratorium sebagai Fasilitator Pembelajaran Praktis dan Inkubator Kolaborasi” yang menghadirkan Fajar Randi Yogananda alumni Program Studi Magister Ilmu Politik FISIP Unsoed sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Fajar Randi Yogananda menjelaskan bahwa Laboratorium Ilmu Politik perlu dikembangkan sebagai ruang yang menjembatani teori yang dipelajari di kelas dengan praktik di lapangan. Menurutnya, laboratorium tidak hanya berfungsi sebagai tempat praktikum, tetapi juga sebagai pusat riset dan analisis data, ruang diskusi akademik, wahana simulasi politik, pelatihan analisis kebijakan, pengembangan kemampuan public speaking, hingga pusat penguatan kompetensi mahasiswa dalam penggunaan perangkat analisis data kuantitatif maupun kualitatif. Lebih jauh, laboratorium diharapkan menjadi penghubung antara kampus dengan berbagai lembaga eksternal sehingga mampu mendorong kolaborasi yang lebih luas antara akademisi dan para pemangku kepentingan.

Sesi ini juga semakin kaya dengan hadirnya Teguh Widadi, S.Sos., M.Sos., alumni Program Studi Magister Ilmu Politik FISIP Unsoed, yang berbagi pengalaman sebagai praktisi pemerintahan. Dalam sesi diskusi, Teguh memberikan perspektif mengenai pentingnya memperkuat kemitraan antara perguruan tinggi dengan pemerintah desa agar kegiatan praktikum dan penelitian memiliki dampak yang lebih nyata bagi masyarakat.

Menurut Teguh, selama ini pemerintah desa cukup sering menjadi lokasi penelitian maupun praktikum mahasiswa. Namun, hasil kajian tersebut belum selalu kembali menjadi pengetahuan atau rekomendasi yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah desa. Ia menekankan bahwa model kolaborasi yang ideal adalah ketika pemerintah desa tidak hanya menjadi objek pembelajaran, tetapi juga menjadi mitra yang memperoleh manfaat langsung melalui rekomendasi kebijakan, pendampingan, maupun inovasi yang dihasilkan dari kegiatan laboratorium dan praktikum mahasiswa.

Pandangan tersebut mendapat apresiasi dari para peserta workshop karena memperkuat arah pengembangan Laboratorium Ilmu Politik yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik mahasiswa, tetapi juga pada kontribusi nyata bagi masyarakat. Melalui kolaborasi antara dosen, mahasiswa, alumni, dan mitra eksternal, laboratorium diharapkan mampu menghasilkan berbagai luaran seperti policy brief, hasil riset terapan, serta program pendampingan yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah maupun pemerintah desa.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Politik FISIP Unsoed menyampaikan bahwa pelibatan alumni dalam forum akademik merupakan bagian dari strategi Program Studi untuk memperkuat ekosistem pembelajaran yang kolaboratif. Alumni menjadi penghubung antara dunia akademik dan dunia praktik, sehingga pengalaman profesional mereka dapat memperkaya pengembangan kurikulum serta implementasi pembelajaran berbasis laboratorium.

Melalui workshop ini, Program Studi Magister Ilmu Politik FISIP Unsoed menegaskan komitmennya untuk terus membangun laboratorium sebagai pusat pembelajaran, penelitian, dan kolaborasi. Sinergi antara narasumber akademik, praktisi, dan alumni diharapkan mampu menghasilkan inovasi pembelajaran yang lebih kontekstual sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab berbagai tantangan tata kelola pemerintahan dan pembangunan di Indonesia.

  • https://indogame.us.com/